05 Oktober 2015

Mayat-mayat di pelukan sang "Atap Dunia" Everest



Rentetan foto berikut bukan untuk Anda dengan nyali kecil. Apa yang akan terlihat di sini adalah manusia-manusia yang memiliki angan besar mencapai puncak tertinggi di dunia, Gunung Everest, namun berakhir dengan maut. Kesemuanya memiliki kisah pilu, kesemuanya bahkan tidak dikubur dengan layak dan diiringi isak tangis handai-taulan.
Mereka yang tewas di pelukan sang "Atap Dunia" ini didokumentasikan oleh admin bernama FuzzieSocks dari situs imgur.com. Kami peringkatkan sekali lagi, jangan melihatnya jika Anda tidak kuat mental.


Mayat-Mayat di Gunung Everest
George Mallory, penyebab kematian: jatuh, trauma pada kepala
Mallory adalah salah satu pendaki pertama yang mencoba menaklukkan Gunung Everest. Pendakian dan kematiannya terjadi di tahun 1924 namun tubuhnya baru ditemukan dan diidentifikasi pada 1999. Namun apakah ia berhasil menuju puncak gunung tersebut masih menjadi misteri.
Mayat-Mayat di Gunung Everest
Tidak diketahui
Ada beberapa mayat yang diketahui ada di bawah jurang. Eksposur udara membuat mereka terawetkan. Sayangnya banyak di antara mayat-mayat ini yang gagal diidentifikasi.
Mayat-Mayat di Gunung Everest
Francys Astentiev, penyebab kematian: eksposur udara, pembengkakkan otak
Wanita ini mendaki bersama suaminya di tahun 1998, namun terpisah di perjalanan menuju puncak. Mereka mencoba menemukan satu sama lain tapi gagal. Francys sempat ditemukan dua pendaki lain ketika ia masih hidup. Ia bahkan sempat mengiba dan memohon agar jangan ditinggalkan begitu saja, tapi pendaki-pendaki tersebut tidak punya pilihan lain kecuali meninggalkannya.
Francys dan suaminya, Sergei, akhirnya meninggal di gunung itu. Sang suami ditemukan setahun kemudian dan diketahui tewas karena jatuh. Sementara dua pendaki yang bertemu Francys, merasa bersalah seumur hidupnya. Mereka berjanji akan kembali ke Everest untuk memberinya pemakaman yang layak.
Ya, mereka akhirnya kembali sembilan tahun pasca kematian Francys, tepatnya di tahun 2007. Jenazah Francys diselimuti dengan bendera AS dan dipindahkan agar tidak terlihat oleh pendaki lain.
Mayat-Mayat di Gunung Everest
Hannelore Schmatz, penyebab kematian: eksposur udara, kelelahan
Schmatz adalah pendaki perempuan pertama yang tewas di Gunung Everest di tahun 1979. Diyakini bahwa dia tewas karena kelelahan dan paparan udara dingin. Dilihat dari posisi jenazahnya, ia tewas ketika tengah beristirahat, bersandar pada tas punggungnya. Naas, ia tidak pernah bangun dari tidur.
Mayat-Mayat di Gunung Everest
Tsewang Paljor, penyebab kematian: paparan udara
Paljor tewas di tahun 1996 kala turun dari puncak gunung. Ia terjebak di badai salju dan akhirnya tewas karena hebatnya paparan udara dingin yang menerpa. Mayatnya hingga sekarang dianggap yang paling tenar karena masih berada di sekitar puncak.
Ia bahkan dikenal sebagai "Green Boots" (Si Sepatu Bot Hijau). Tubuh kakunya menjadi titik patokan bagi pendaki lain untuk mengukur seberapa jauh lagi mereka menuju ke puncak.
Mayat-Mayat di Gunung Everest
Marko Lihteneker, penyebab kematian: eksposur udara, kelelahan
Pria ini tewas dalam perjalanan turun di tahun 2005. Ia terakhir kali terlihat tengah mengalami masalah dengan masker oksigennya.
Mayat-Mayat di Gunung Everest
David Sharp, penyebab kematian: eksposur udara, kelelahan
Sharpd merupakan pendaki Inggris yang berhenti sesaat untuk rehat di dekat jenazah "Green Boots" di tahun 2006. Malangnya, ia membeku hingga tewas dan gagal meneruskan pendakian.
Kisah ini semakin tragis karena sebelum ia tewas, ada 30 pendaki yang melewatinya. Bahkan ada beberapa yang sempat berbincang dengannya. Tapi di kondisi Gunung Everest yang brutal, Anda tidak bisa melakukan banyak hal untuk menolong orang lain. Usaha macam ini malah akan membahayakan nyawa diri sendiri dan mereka yang coba Anda tolong.
Mayat-Mayat di Gunung Everest
Shriya Shah–Klorfine, penyebab kematian: kelelahan
Shah–Klorfine sebenarnya sukses menuju ke puncak di tahun 2012. Ia bahkan menghabiskan waktu 25 menit untuk merayakannya. Tapi nasib naas menanti ketika ia turun. Oksigen yang dibawanya tidak cukup sehingga ia mati kelelahan. Jenazahnya masih ada hingga sekarang, hanya 300 meter dari puncak dan terbungkus bendera Kanada.

0 komentar:

Poskan Komentar

papan iklan contak kami

Curug Malela... Niagara from Bandung

Curug Malela , Niagara Mini From Bandung Slideshow: PreeSella’s trip to Bandung, Jawa, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Bandung slideshow. Take your travel photos and make a slideshow for free.

iklan berjalan ( kendaraan roda empat)

iklan berjalan ( kendaraan roda empat) kami mencari perusahaan telekomunikasi yang mau bekerja sama untuk pemasangan iklan berjalan pada kendaraan roda empat, untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi kami di 0813.8082.2272. kami berlokasi di Jakarta Pusat..